Pangeran Diponegoro dalam Melawan Penjajahan di Tanah Jawa

Pangeran Diponegoro Melawan Penjajahan – Salah satu bukti sejarah perjuangan Indonesia melawan penjajahan Hindia Belanda adalah perang Diponegoro yang berlangsung selama lima tahun, yakni 1825 hingga 1830.

Nama asli Raden Mas Ontowiryo, lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta, adalah putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III. Pangeran Diponegoro dikenal luas karena berhasil memimpin perang Diponegoro atau perang Jawa karena terjadi di tanah jawa.

Perang ini adalah perang terbesar yang di alami oleh Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara. Berikut kronologi Pangeran Diponegoro dalam melawan Penjajahan di Jawa yang dikutip dari laman Direktorat SMP Kemdikbud.

Perang Diponegoro

1. Belanda Terlalu Ikut Campur

Perang ini terjadi karena Belanda terlalu ikut campur tangan dalam urusan kerajaan. Selain itu pada tahun 1821, petani lokal menderita akibat penyalahgunaan tanah oleh warga Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman.

Pangeran Diponegoro kemudian membulatkan tekad untuk melakukan perlawanan. Hal tersebut dilakukan dengan pajak Puwasa agar petani di Tegalrejo dapat membeli senjata dan makanan.

Amarah Pangeran Diponegoro juga memuncak ketika Belanda memasang tonggak-tonggak untuk membuat rel kereta api melewati makam leluhurnya.

2. Bersembunyi di Gua

Pangeran Diponegoro pindah ke Selarong, yang merupakan daerah berbukit-bukit yang dijadikan markas besarnya. Kemudian menjadikan Goa Selarong yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul sebagai tempat persembunyiannya.

Pangeran Diponegoro menempati di goa sebelah barat yang disebut Goa Kakung yang menjadi tempat pertapaanya ditemani Raden Ayu Retnaningsih.

3. Perang Terjadi Selama Lima Tahun

Perang Diponegoro terjadi selama lima tahun. Pangeran Diponegoro memimpin masyarakat Jawa, dari kalangan petani hingga priyayi turut menyumbangkan uang dan barang-barang berharga lainnya sebagai dana perang.

Pangeran Diponegoro juga di bantu oleh 15 pangeran. Selain itu dirinya juga telah berhasil mengajak para bandit profesional yang ditakuti oleh penduduk. Perjuangan Diponegoro juga dibantu oleh Kyai Mojo yang menjadi pemimpin spiritual pemberontakan.

4. Belanda Menyerang dengan Sistem Benteng

Belanda kemudian menyerang Diponegoro dengan sistem benteng sehingga pasukan Diponegoro tertangkap. Pada tahun 1829, Kysi Mojo, pemimpin spiritual pemberontakan, di tangkap.

Kemudian pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegorodi Magelang.

Pangeran Diponegoro menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Pangeran Diponegoro ditangkap dan di asingkan ke Manado, lalu di pindahkan ke Makassar hingga wafat di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

5. Keadaan Setelah Perang

Setelah perang Diponegoro pada tahn 1832, seluruh raja dan bupati di Jawa tunduk menyerah kepada Belanda kecuali bupati Ponorogo Warok Brotodiningrat III. Ia justru hendak menyerang seluruh kantor Belanda yang berada di kota-kota keresidenan Madiun Jawa Tengah seperti Wonogiri, Karanganyar yang banyak dihuni oleh Warok.

Demikianlah kisah peristiwa perang Diponegoro yang dipimpin langsung oleh Pangeran Diponegoro.