Kategori: Sejarah

Pangeran Antasari, Pejuang Perang Banjar

Pangeran Antasari, Pejuang Perang Banjar

Pahlawan nasional sebelum kemerdekaan ada banyak sekali. Salah satunya adalah Pangeran Antasari.

Sosok Pangeran Antasari tidak bisa dilepaskan dari berlangsungnya Perang Banjar yang terjadi pada 1859-1905.

Perang Banjar merupakan perlawanan rakyat Banjar terhadap Belanda. Perang ini merupakan salah satu aksi perjuangan bangsa Indonesia yang menolak penjajah.

Interaksi antara Belanda dan Kesultanan Banjar menimbulkan permasalahan di mana perlawanan Pangeran Antasari menjadi puncaknya.

Pangeran Antasari Pejuang Perang Banjar berikut biografinya.

Kelahiran Pangeran Antasari

Pangeran Antasari lahir di Kayu Tangi, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan pada tahun 1979. Ia merupakan bagian dari keluarga besar Kesultanan Banjar.

Pangeran Antasari merupakan keturunan dari Sultan Tachmidullah atau yang dikenal juga sebagai Panembahan Kuning.

Ayahnya merupakan Pangeran Masohut (Mas’ud), sedangkan ibunya Gusti Hadijah. Pangeran Antasari memiliki adik perempuan bernama Ratu Antasari (Ratu Sultan).

Pada tahun 1862, Pangeran Antasari diangkat sebagai pemimpin pemerintahan tertinggi, menggantikan ayahnya yang ditangkap dan dibuang oleh Belanda. Belanda memecah belah rakyat Banjar dengan cara mengadu domba.

Perjuangan Pangeran Antasari dalam Perang Banjar

Dalam buku Pangeran Antasari (1993) oleh M Idwar Saleh, pada bulan Mei 1859, Pangeran Antasari dan pasukannya berhasil menduduki seluruh wilayah Martapura. Pangeran Antasari memiliki pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat Banjar.

Ditengah perjuangannya melawan Belanda, justru Belanda semakin gencar melakukan politik adu domba. Sehuingga lingkungan kerajaan menjadi terpecah belah dan rakyat Banjar saling bermusuhan.

Dengan penuh keprihatinan melihat kondisi rakyatnya, Pangeran Antasari menyerang tambang batu bara di Pengaron. Serangan tersebut kemudian dikenal dengan Perang Banjar.

Pangeran Antasari berhasil menaklukkan Belanda di Gunung Jabuk. Melihat serangan Antasari yang semakin kuat, Belanda akhirnya menyerah dan berniat melakukan damai serta kerja sama. Namun, niat tersebut ditolah Antasari yang tidak ingin berkompromi dengan penjajah manapun, termasuk Belanda.

Wafatnya Pangeran Antasari dan mengapa ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional

Meski usianya sudah tua, Pangeran Antasari tidak pernah berhenti berjuang melawan penjajah. Ditengah-tengah perlawanannya, terjadi wabah cacar yang menyebar di seluruh Banjar. Pangeran Antasari dan pasukannya juga terjangkit wabah tersebut.

Dan pada akhirnya, Pangeran Antasari wafat pada 11 Oktober 1862 karena penyakit cacar yang kala itu mewabah di Kalimantan Selatan. Ia wafat ketika mempersiapkan serangan besar-besaran terhadap Belanda.

Beliau dimakamkan di Taman Makan Perang Banjar, Banjarmasin Utara.
Pangeran Antasari mendapat gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tanggal 27 Maret 1968 karena jasa-jasanya. Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 06/TK/1968.

Demikianlah biografi singkat Pangeran Antasari. Semoga pribadinya yang sederhana dan pantang menyerah, dapat menginspirasi kamu!

Sosok Ki Hajar Dewantara, Pahlawan Pendidikan Indonesia

Sosok Ki Hajar Dewantara, Pahlawan Pendidikan Indonesia

Sejarah Ki Hajar Dewantara: Bapak Pendidikan Nasional

Sosok Ki Hajar Dewantara – Ki Hajar Dewantara dilahirkan pada hari kamis legi, 2 Ramadhan 1309 H atau bertepatan dengan tanggal 2 Mei 1889 disebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Beliau merupakan putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu dari Pakualaman III, Ki Hajar Dewantara dibesarkan di lingkungan keraton Yogyakarta.

Karena keluarga besar beliau merupakan keturunan pangeran Kadipaten Puro Pakualaman yang notabenenya adalah seorang ningrat, maka nama lengkapnya menjadi Raden Mas Soewardi Soejaningrat.

Pada hari lahirnya Ki Hajar Dewantara atau Raden Mas Soewardi Soeryaningrat dijadikan atau ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Pendidikan

Ki Hajar Dewantara kecil bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School), Sekolah Dasar pada zaman Belanda untuk orang Eropa. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan di STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputra), merupakan sekolah dokter bagi pribumi di Batavia (sekarang Jakarta) tetapi tidak lulus karena sakit. Sejumlah sumber lain mendapati pemerintah Belanda-lah yang memutus beasiswa pendidikannya pada 1910.

Pekerjaan

Ki Hajar Dewantara belajar beragam hal baru dari menggeluti profesi sebagai wartawan. Salah satu surat kabar yang pernah menjadi tempatnya berkarya yaitu Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Muoeda, Tjahaja Timur, dan Poesara. Tulisannya dinilai sangat komunikatif, tajam, dan partiotik, sehingga mampu membangkitkan semangat antipenjajahan.

Organisasi

Ki Hajar aktif sebagai seksi propoganda untuk menggugah dan mensosialisasikan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa sejak berdirinya Boedi Oetomo tahun 1908.

Tahun 1908, Ki Hajar aktif di organisasi Budi Utomo untuk menggugah kesadaran masyarakat agar bersatu mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Pada 25 Desember 1912, ia juga membentuk Indische Partij, partai politik nasionalisme pertama bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo untuk mewujudkan kemerdekaan.

Membuat Marah Belanda

Peresmian Indische Partij ditolak pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jenderal Idenburg karena dianggap dapat membangkitkan nasionalisme dan penentangan atas penjajahan. Ki Hajar Dewantara dan tokoh Indische Partij lalu membuat Komite Bumiputra pada 1913.

Komite ini bertujuan untuk mengkritik pemerintah Belanda yang menggunakan uang dan sumber daya wilayah jajahannya untuk mengadakan perayaan-perayaan. Salah satunya yaitu saat pemerintah Belanda hendak merayakan 100 tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis.

Kritik tersebut dituangkan Ki Hajar Dewantara dalam surat kabar De Express milik Douwes Dekker. Seperti dikutip dari Ensiklopedia Pahlawan Indonesia dari Masa ke Masa oleh Tim Grasindo.

Tulisan dari Ki Hajar Dewantara yang paling terkenal adalah Als ik een Nederlander was (Seandainya aku seorang Belanda) pada tanggal 13 Juli 1913. Berikut ini beberapa kutipannya:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah keyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikitpun baginya.”

Kritik tersebut membuat marah pemerintah Belanda sehingga Ki Hajar Dewantara diasingkan ke Pulau Bangka. Namun Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker memprotes hal tersebut dan pada akhirnya ketiga orang tersebut diasingkan ke Belanda pada tahun 1913. Ketiga tokoh ini dikenal dengan nama Tiga Serangkai.

Suatu hari, mereka mengajukan usul pada Belanda agar bisa dibuang ke negeri Belanda agar dapat belajar banyak hal, alih-alih di tempat terpencil tersebut. Akhirnya pada Agustus 1913, permintaan mereka dikabulkan.

Mendirikan Taman Siswa

Setelah kembali dari pengasingan dari Belanda pada tahun 1919, Ki Hajar Dewantara bergabung dengan sekolah yang dikelola oleh saudaranya. Pada tanggal 3 Juli 1922 beliau mendirikan sebuah Perguruan Nasional Taman Siswa (National Onderwijs Insitut Taman Siswa).

Taman Siswa merupakan lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan kepada orang-orang pribumi pada waktu itu agar dapat memperoleh hak pendidikan layaknya orang berada dan orang-orang Belanda.

“Ing Ngarsa Sun Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa,Tut Wuri Handayani”

Itulah ajaran yang terkenal dari Pendiri Taman Siswa ini yang bermakna sebagai berikut:

1. Ing Ngarsa Sun Tulodho (Di depan menjadi teladan)

Semboyan ini bermakna ketika kita berada di garis depan atau sebagai pemimpin kita harus bisa menjadi teladan dan contoh yang baik bagi orang-orang yang berada di sekitar kita.

2. Ing Madya Mangun Karsa (Di tengah membangun semangat)

Semboyan ini bermakna ditengah kesibukan yang kita jalani kita harus bisa membangkitkan semangat untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

3. Tut Wuri Handayani (Di belakang memberi dorongan)

Semboyan ini bermakana kita harus bisa memberikan semangat dari belakang.

Meninggal

Ki Hajar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959.

Biografi Singkat Jenderal Soedirman

Biografi Singkat Jenderal Soedirman, Panglima Besar Pertama Indonesia

Biografi Singkat Jenderal Soedirman – Jenderal Soedirman merupakan seorang Pahlawan Revolusi Nasional Indonesia yang berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan panglima besar pertama di Tentara Indonesia dan menjabat di usia yang masih sangat muda, yakni 31 tahun.

Jenderal Soedirman adalah anak rakyat biasa yang kemudia di adopsi oleh pamannya, dan berubah menjadi bangsawan Jawa.

Sebelum masuk ke militer, jenderal Soedirman adalah seorang guru di sebuah sekolah dasar yang di kelola oleh Muhammadiyah. Namun setelah Jepang menjajah Indonesia, Jenderal Sudirman masuk ke militer hingga dilantik menjadi panglima besar.

Biografi singkat Jenderal Soedirman

Soedirman lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 24 Januari 1916. Ia merupakan anak dari pasaangan Karsid Kartawiraji dan Siyem.

Karena adanya permasalahan ekonomi, Soedirman kecil diasuh oleh pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo. Setelah diadopsi, Soedirman diberi gelar kebangsawanan Jawa dan namanya menjadi Raden Soedirman.

Pendidikan Soedirman

Soedirman memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tetapi tidak sampai tamat. Selama menempuh pendidikan di sana, ia pun turut serta dalam kegiatan organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Setelah itu ia menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Ia kemudian mengabdikan dirinya menjadi guru HIS Muhammadiyah, Cilacap dan pemandu di organisasi Pramuka Hizbul Wathan tersebut.

Masa Penjajahan Jepang

Ketika Jepang menguasai Indonesia pada 1942, sekolah tempat Soedirman mengajar ditutup dan dialihfungsikan menjadi pos militer. Saat itu, Soedirman yang dipandang sebagai tokoh masyarakat diminta untuk memimpin sebuah tim di Cilacap dalam menghadapi serangan Jepang. Selain itu, Soedirman juga melakukan negosiasi dengan Jepang supaya membuka kembali sekolahnya. Upaya itu berhasil. Pada 1944, Soedirman diminta bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) dan diangkat menjadi komandannya. Adapun Jepang mendirikan PETA pada Oktober 1943 untuk membantu melawan invasi Sekutu dalam Perang Dunia II. Di bawah kepimpinan Jenderal Soedirman, PETA berjalan dengan sangat baik. Namun, ketika berada di bawah pimpinan Kusaeri, PETA melakukan perlawanan terhadap Jepang pada 21 April 1945.

Mempertahankan Kemerdekaan

Setelah Jepang meyerah kalah dalam Perang Dunia II dan Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Jenderal Soedirman memerintahkan rekan-rekannya untuk kembali ke daerah asal mereka. Sementara itu, Jenderal Soedirman pergi ke Jakarta. Di sana, ia menemui Presiden Soekarno yang memintanya untuk memimpin perlawanan Jepang di kota. Namun, permintaan itu ditolak oleh Jenderal Soedirman karena ia merasa tidak menguasai medan di Jakarta.

Jenderal Soedirman kemudian menawarkan diri kepada Presiden Soekarno untuk memimpin pasukan di Kroya yang masuk ke wilayah Kabupaten Cilacap saat ini. Setelah itu, Jenderal Soedirman kembali dan bergabung dengan pasukannya pada 19 Agustus 1945. Saat itu, Belanda tengah berupaya kembali ke Indonesia bersama tentara Inggris.

Guna mengatasi permasalahan tersebut, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) membentuk tiga badan sebagai wadah perjuangan rakyat pada 22 Agustus 1945, yakni:

  • Komite Nasional Indonesia (KNI)
  • Partai Nasional Indonesia (PNI)
  • Badan Keamanan Rakyat (BKR)

Sementara itu, Jenderal Soedirman mendirikan divisi lokal dalam BKR dan kemudian pasukannya dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober 1945 oleh Panglima Sementara Oerip Soemohardjo.

Akhir perjuangan Soedirman

Pada November 1945, dilaksanakan pemilihan panglima besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Yogyakarta. Saat itu terdapat dua kandidat, yakni Soedirman dan Oerip Soemohardjo. Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TKR, sedangkan Oerip Soemohardjo menjadi kepala staffnya. Saat itu, meski belum dilantik secara resmi, Soedirman mengerahkan pasukannnya untuk menyerang Inggris dan Belanda di Ambarawa.

Selain melawan Sekutu dan Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia, Soedirman dan pasukannnya juga harus melawan serangan dari dalam. Salah satunya ialah upaya pemberontakan PKI Madiun yang dipimpin oleh Musso pada 1948.

Berbagai perlawanan dilalui oleh Jenderal Sudirman hingga pada akhirnya ia menderita penyakit tuberkoliosis. Namun, meski dalam keadaannya yang tidak sehat, Jenderal Sudirman tetap memimpin perlawanan Indonesia melawan Belanda yang melakukan Agresi Militer II pada 19 hingga 20 Desember 1948.

Saat itu, Belanda berhasil menduduki Yogyakarta yang menjadi ibu kota Indonesia dan menawan para pemimpin negara, seperti Soekarno dan Hatta. Meski demikian, Jenderal Soedirman dan beberapa tentara serta dokter pribadinya melakukan gerilya selama tujuh bulan. Perlawanan yang terus dilakukan oleh pejuang gerilyawan Indonesia berhasil membuat Belanda menarik diri.

Saat itu, Sudirman masih mempunyai keinginan untuk terus melawan Belanda, tetapi ditolak oleh Presiden Soekarno karena mempertimbangkan masalah kesehatan sang jenderal. Dalam kondisi sakit, Jenderal Sudirman diangkat menjadi panglima besar TNI di negara baru Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949. Hingga akhirnya, Jenderal Soedirman meninggal dunia pada 29 Januari 1950 di usia yang ke-34 tahun. Jenderal Soedirman kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Pattimura Pahlawan Nasional dari Tanah Maluku, Ini Sosoknya

Pattimura Pahlawan Nasional dari Tanah Maluku, Ini Sosoknya

Pattimura pahlawan nasional atau yang dikenal dengan sebutan Kapitan Pattimura merupakan pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Haria, Saparua, Maluku. Ia memiliki nama asli Thomas Matulessy dari keluarga Matulessia (Matulessy) yang masih bersaudara dengan raja Maluku.

Profil Pattimura

Tempat Lahir: Saparua, Maluku Tengah
Tanggal Lahir: 8 Juni 1783
Meninggal: 16 Desember 1817
Orangtua: Frans Matulessy (ayah) dan Fransina Silahoi (ibu)

Pattimura Berperan Aktif dalam Melawan VOC

Pattimura pernah berkarir sebagai sersan Militer Inggris sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC. Yang kemudian dikenal karena memimpin perlawanan rakyat Maluku melawan Belanda melalui perang Pattimura.

Sejak abad ke 17 dan 18, berlangsung perlawanan bersenjata melawan Belanda (VOC) dikarenakan terjadi praktik penindasan kolonialisme dalam bentuk monopoli perdagangan, pelayaran hongi, kerja paksa, dan sebagainya. Penindasan tersebut dirasakan dalam semua sisi kehidupan rakyat, baik segi sosial ekonomi, politis dan segi sosial psikologis.

Pattimura Pencetus Proklamasi Haria

Untuk menolak tegas kedatangan Belanda ke wilayah Maluku, Pattimura pun menyusun Proklamasi Haria. Belanda berusaha menguasai Maluku sejak berakhirnya kedudukan Inggris di Indonesia pada tanggal 25 Maret 1817.

Pattimura Ditunjuk sebagai Kapitan Besar

Pemerintah Belanda mulai memaksakan kekuasaannya melalui Gubemur Van Middelkoop clan Residen Saparua Johannes Rudolf van der Berg. Oleh karena itu, diadakan musyawarah forum dan hasilnya mereka menyetujui Pattimura sebagai kapten besar untuk memimpin perlawanan. Pada tanggal 7 Mei 1817 dalam rapat umum di Baileu negeri Haria, Pattimura dikukuhkan dalam upacara adat sebagai “Kapitan Besar”.

Pattimura: Melawan VOC bersama Pahlawan Lainnya

Setelah dilantik sebagai kapten, Pattimura memilih beberapa orang yang juga berjiwa ksatria. Yaitu Anthoni Rhebok, Philips Latimahina, Lucas Selano, Arong Lisapafy, Melchior Kesaulya, Sarassa Sanaki, Martha Christina Tiahahu, dan Paulus Tiahahu. Pattimura bersama Philips Latumahina dan Lucas Selano melakukan penyerbuan ke benteng Duurstede.

Jatuhnya benteng Duurstede ke tangan pasukan Pattimura, menggemparkan pemerintah Belanda di kota Ambon. Gubernur Van Middelkoop dan komisaris Engelhard menurunkan militer yang besar ke Saparua di bawah pimpinan Mayor Beetjes. Ekspedisi tersebut pun kemudian disebut dengan ekspedisi Beetjes.

Pattimura bersama pasukannya mengatur taktik dan strategi pertempuran. Pasukan rakyat yang terdiri dari seribu orang diatur dalam pertahanan sepanjang pesisir mulai dari teluk Haria, sampai ke teluk Saparua.  Pada akhirnya, Pattimura bersama pasukannya berhasil mengalahkan Beetjes dan tentaranya.

Menggalang Persatuan dengan Kerajaan Daerah Lain

Pattimura membuat persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa untuk melawan Belanda. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuasaan militer yang besar dan mengirim Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Pattimura.

Sebagai pemimpin, ia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan, dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa

Sejarah Batik Di Indonesia

Sejarah Batik Di Indonesia

Sejarah Batik Di Indonesia – Hari Batik Nasional diperingati setiap tahun tanggal 2 Oktober. Batik nasional juga sudah masuk ke dalam daftar Perwakilan Warisan Budaya Tak Benda United Nations of Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tahun 2009.

Sejarah hari batik nasional pun diputuskan ketika Batik diakui dalam sidang ke-4 komite antar-pemerintah tentang Warisan Budaya Tak-Benda yang diselenggarakan UNESCO di Abu Dhabi. Dalam agenda tersebut, UNESCO mengakui batik, wayang, keris, noken, dan tari saman sebagai Budaya-Tak Benda warisan manusis oleh UNESCO.

Sejarah Batik Indonesia

Batik merupakan salah satu jenis karya seni rupa yang berkembang di Indonesia. Batik sendiri diprakirakan sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Dalam catatan sejarah, batik telah ditemukan sejak saat zaman Majapahit dan populer pada akhir abad XVIII atau permulaan abad XI.

Dikutip dari buku Mengenal Aneka Batik oleh Suerna Dwi Lestari, kata batik berasal dari bahasa Jawa. Seorang peneliti dan pustakawan asal Belanda bernama G.P Rouffaer, berpendapat bahwa teknik batik kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilanka pada abad ke-6 atau 7.

Dahulu, batik dibuat dengan cara ditulis secara manual. Batik ini dikenal dengan sebutan batik tulis. Hingga kini batik tulis yang dibuat dengan mengandalkan tulisan tangan dengan canting dan malam ini masih dibuat namun jumlahnya tak terlalu banyak.

Batik tulis dibuat dengan motif yang sederhana, proses pewarnaan pada batik ini juga masih tradisional karena hanya mengandalkan bahan alami. Meskipun prosesnya lebih sulit dan panjang, tetapi kualitas batik tulis terbilang juara.

Setiap daerah di Indonesia memiliki motif batik yang berbeda. Motif ini menggambarkan berbagai hal, termasuk kekayaan alam. Setiap motif batik pun memiliki makna dan filosofi mendalam.

Seiring perkembangan zaman, batik kemudian dibuat dengan teknik cap. Teknik ini baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.

Batik cap menjadi produk paling banyak yang diproduksi secara pabrikan. Motif dan warna batik pun semakin beragam karena sudah mengandalkan pewarna tekstil yang bisa digunakan untuk produksi massal.

Jenis-jenis Batik

Batik nasional juga memiliki beragam jenis dari segi daerah produksinya. Salah satunya dan yang paling unik ialah jenis batik tiga negeri. Dinamai batik tiga negeri karena dibuat di tiga daerah yaitu Lasem, Solo, dan Pekalongan.

Dilihat dari cara pembuatan, komposisi, dan kekhasan tiga daerah menjadi satu maka tidak perlu heran lagi kalau harga batik tiga negeri paling mahal di antara batik yang lain.

Jenis batik terkenal lainnya di Indonesia antara lain Batik Mega Mendung Corebon, Batik Tujuh Rupa Pekalongan, Batik Parangkusumo, Batik Sekar Jagad Solo Yogyakarta, Batik Tambal Yogyakarta, Batik Lasem Rembang, Batik Singa Barong Cirebon, Batik Jlamprang, Batik Terang Bulan, Batik Cap Kombinasi Tulis, Batik Tiga Negeri Pekalongan, Batik Sogan Pekalongan, dan lain sebagainya.

Demikian paparan singkat mengenai sejarah hari batik nasional beserta jenis-jenis Batik Nasional. Semoga bisa menjadi referensi.

Pangeran Diponegoro dalam Melawan Penjajahan di Tanah Jawa

Pangeran Diponegoro dalam Melawan Penjajahan di Tanah Jawa

Pangeran Diponegoro Melawan Penjajahan – Salah satu bukti sejarah perjuangan Indonesia melawan penjajahan Hindia Belanda adalah perang Diponegoro yang berlangsung selama lima tahun, yakni 1825 hingga 1830.

Nama asli Raden Mas Ontowiryo, lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta, adalah putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III. Pangeran Diponegoro dikenal luas karena berhasil memimpin perang Diponegoro atau perang Jawa karena terjadi di tanah jawa.

Perang ini adalah perang terbesar yang di alami oleh Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara. Berikut kronologi Pangeran Diponegoro dalam melawan Penjajahan di Jawa yang dikutip dari laman Direktorat SMP Kemdikbud.

Perang Diponegoro

1. Belanda Terlalu Ikut Campur

Perang ini terjadi karena Belanda terlalu ikut campur tangan dalam urusan kerajaan. Selain itu pada tahun 1821, petani lokal menderita akibat penyalahgunaan tanah oleh warga Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman.

Pangeran Diponegoro kemudian membulatkan tekad untuk melakukan perlawanan. Hal tersebut dilakukan dengan pajak Puwasa agar petani di Tegalrejo dapat membeli senjata dan makanan.

Amarah Pangeran Diponegoro juga memuncak ketika Belanda memasang tonggak-tonggak untuk membuat rel kereta api melewati makam leluhurnya.

2. Bersembunyi di Gua

Pangeran Diponegoro pindah ke Selarong, yang merupakan daerah berbukit-bukit yang dijadikan markas besarnya. Kemudian menjadikan Goa Selarong yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul sebagai tempat persembunyiannya.

Pangeran Diponegoro menempati di goa sebelah barat yang disebut Goa Kakung yang menjadi tempat pertapaanya ditemani Raden Ayu Retnaningsih.

3. Perang Terjadi Selama Lima Tahun

Perang Diponegoro terjadi selama lima tahun. Pangeran Diponegoro memimpin masyarakat Jawa, dari kalangan petani hingga priyayi turut menyumbangkan uang dan barang-barang berharga lainnya sebagai dana perang.

Pangeran Diponegoro juga di bantu oleh 15 pangeran. Selain itu dirinya juga telah berhasil mengajak para bandit profesional yang ditakuti oleh penduduk. Perjuangan Diponegoro juga dibantu oleh Kyai Mojo yang menjadi pemimpin spiritual pemberontakan.

4. Belanda Menyerang dengan Sistem Benteng

Belanda kemudian menyerang Diponegoro dengan sistem benteng sehingga pasukan Diponegoro tertangkap. Pada tahun 1829, Kysi Mojo, pemimpin spiritual pemberontakan, di tangkap.

Kemudian pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegorodi Magelang.

Pangeran Diponegoro menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Pangeran Diponegoro ditangkap dan di asingkan ke Manado, lalu di pindahkan ke Makassar hingga wafat di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

5. Keadaan Setelah Perang

Setelah perang Diponegoro pada tahn 1832, seluruh raja dan bupati di Jawa tunduk menyerah kepada Belanda kecuali bupati Ponorogo Warok Brotodiningrat III. Ia justru hendak menyerang seluruh kantor Belanda yang berada di kota-kota keresidenan Madiun Jawa Tengah seperti Wonogiri, Karanganyar yang banyak dihuni oleh Warok.

Demikianlah kisah peristiwa perang Diponegoro yang dipimpin langsung oleh Pangeran Diponegoro.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit

Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit

Sejarah Singkat

Kerajaan Majapahit – Konon awal mula Kerajaan Majapahit berdiri setelah runtuhnya Kerajaan Singasari akibat Pemberontakan Jayakatwang pada tahun 1292 M. Cucu Kartanegara (raja Singosari dikalahkan Jayakatwang) yang berada di bawah tekanan, yaitu Raden Wijaya kemudian melarikan diri.

Selama pelariannya, ia menerima bantuan dari Arya Wiraja. Raden Wijaya kemudian membuat desa kecil di hutan Trowulan dan diberi nama desa Majapahit.

Nama ini diambil dari nama buah Maja yang tumbuh di hutan namun memiliki rasa pahit, terkait dengan Historia. Seiring berjalannya waktu, desa itu berkembang dan Wijaya diam-diam dikuatkan dengan merebut hati penduduk dari Tumapel dan Daha.

Niat balas dendam Raden Wijaya terbantu lebih cepat ketika pasukan Khubilai Khan tiba pada tahun 1293. Setelah mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya menyerang pasukan Khubilai Khan karena tidak mau tunduk pada kekuasaan kaisar Mongol.

Penobatannya sebagai raja pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 atau pada tanggal 10 November 1293 merupakan cikal bakal lahirnya kerajaan Majapahit. Sebagai raja, Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana.

Nama Raden Wijaya telah disematkan untuk menghormati pamannya, pendiri Kerajaan Singasari, serta untuk menghormati leluhurnya di Singasari.

Masa Kejayaan Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit mengalami masa keemasan ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk. Cucu Raden Wijaya ini memerintah pada 1350 M hingga 1389 M. Saat memimpin, ia didampingi Patih Gajah Mada.

Masa kejayaannya disebut tak terlepas dari peran Gajah Mada. Dia di angkat sebagai patih amangku bhumi pada 1366 M atau sewaktu Tribhuwana Tunggadewi berkuasa.

Saat penobatannya, Gajah Mada bersumpah untuk menyatukan Nusantara di bawah panji Majapahit. Sumpah itu dinamakan Amukti Palapa atau dikenal dengan Sumpah Palapa.

Slamet Muljana menuturkan, dalam sumpah itu, Gajah Mada berkeinginan untuk menguasai negara-negara di luar Majapahit.

Negara-negara tersebut yakni Gurun (Lombok), Seran (Seram), Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumatera Utara), Pahang (Malaya), Dompo, Bali, Sunda, Palembang (Sriwijaya) dan Tumasik (Singapura).

Gajah Mada pun mewujudkan sumpahnya. Wilayah kerajaan Majapahit menjadi luas, bahkan melebihi dari apa yang di cita-citakan.

Kerajaan Majapahit menguasai sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaya, dan wilayah-wilayah kepulauan di timur Jawa. Negara-negara yang di kuasai Majapahit tercatat dalam kitab Negarakertagama pupuh 13 dan 14.

“Terbukti, nama-nama negara nusantara yang tercatat dalam pupuh tersebut jauh lebih banyak daripada yang dinyatakan dalam sumpah Nusantara,” sebut Slamet dalam bukunya.

Raja-raja Kerajaan Majapahit

  • Raden Wijaya (1293-1309 M)
  •  Sri Jayanagara (1309-1328 M)
  •  Tribhuwana Tunggadewi (1328-1350 M)
  •  Hayam Wuruk (1350-1389 M)
  •  Wikramawardhana (1389-1429 M)
  •  Dyah Ayu Kencana Wungu (1429-1447 M)
  •  Prabu Brawijaya I (1447-1451 M)
  •  Prabu Brawijaya II (1451-1453 M)
  •  Prabu Brawijaya III (1456-1466 M)
  •  Prabu Brawijaya IV (1466-1468 M)
  •  Prabu Brawijaya V (1468 -1478 M)
  •  Prabu Brawijaya VI (1478-1489 M)
  •  Prabu Brawijaya VII (1489-1527 M)

Keruntuhan Kerajaan Majapahit

Mulai mengalami kemunduran setelah wafatnya Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Sejak saat itu, para penerusnya tidak ada yang cakap dalam mengelola luasnya kekuasaan Majapahit.

Selain itu, terdapat beberapa faktor yang mendorong runtuhnya Kerajaan Majapahit. Di antaranya:

  • Banyak wilayah taklukkan yang melepaskan diri
  • Terdapat konflik perebutan takhta
  • Meletusnya Perang Paregreg
  • Semakin berkembangnya pengaruh Islam di Jawa

Kekuasaannya benar-benar berakhir pada 1527, setelah ditaklukan oleh pasukan Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak.

Peninggalan

Meski telah runtuh beberapa abad lalu, hingga kini masyarakat modern tetap dapat menyaksikan sisa-sisa peninggalan kerajaan Majapahit. Saksi bisu kejayaan Majapahit muncul dalam berbagai rupa seperti situs, candi, kitab, dan arsitektur.

Sejarah Dan Tujuan Di Bentuknya ASEAN

Sejarah Dan Tujuan Di Bentuknya ASEAN

Tujuan Di Bentuknya ASEAN – Association of Southeast Asian Nations merupakan organisasi antar negara kawasan Asia. ASEAN juga sering disebut sebagai Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (PERBARA).

ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok. Pembentukkannya sendiri diprakarsai oleh lima negara yaitu, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura dan Indonesia. Penandatangan Deklarasi Bangkok menjadi dasar berdirinya ASEAN.

Hingga pada saat ini, terdapat sepuluh negara yang tergabung dalam ASEAN. Sebelum kita membahas daftar negara tersebut, ada kalanya kita mengetahui terlebih dahulu awal mula pembentukkan ASEAN.

Sejarah ASEAN

Mengutip laman resmi Sekretariat Nasional ASEAN, latar belakang terbentuknya ASEAN adalah adanya keinginan kuat pada pendirinya untuk menciptakan kawasan Asia Tenggara yang damai, aman, stabil, dan sejahtera.

Hal tersebut mengemuka akibat perang dingin antara Amerika Serikat dengan Rusia, yang secara tidak langsung memberi dampak stabilitas keamanan terhadap negara-negara Asia Tenggara.

Lalu pada era 1960-an kawasan Asia Tenggara dihadapkan dengan situasi rawan konflik. Yaitu perebutan pengaruh ideologi negara-negara besar dan konflik antara negara di kawasan. Apabila di biarkan, hal tersebut jelas dapat menganggu stabilitas kawasan sehingga menghambat pembangunan.

Setelah menemukan kesamaan, akhirnya pada tanggal 8 Agustus 1967 negara pendiri memutuskan untuk bertemu di Bangkok. Untuk membahas berbagai persoalan dan solusi untuk masalah yang timbul di kawasan Asia Tenggara.

ASEAN di bentuk karena adanya persamaan latar belakang antara negara-negara anggota. Mengutip dari buku Mengenal ASEAN dan Negara-negaranya yang disusun oleh Tri Prasetyono, berikut merupakan beberapa persamaan yang dimiliki negara-negara-negara anggota ASEAN.

  • Sama-sama terletak di kawasan Asia Tenggara.
  • Negara-negara di kawasan Asia Tenggara sama-sama pernah dijajah oleh bangsa barat.
  • Memiliki kepentingan mencegah pengaruh antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
  • Mempunyai dasar kebudayaan Melayu Austronesia.
  • Mempunyai kepentingan dalam menangani berbagai permasalahan di bidang politik, ekonomi, sosial serta budaya.

Tujuan ASEAN

Deklarasi Bangkok berisi tujuan pembentukan ASEAN dan di tandatangani oleh lima menteri luar negeri pendiri ASEAN. Yakni Adam Malik dari Indonesia, Narciso R. Ramos dari Filipina, Tun Abdul Razak dari Malaysia, S. Rajaratnam dari Singapura, dan Thanat Khoman dari Thailand.

Adapun tujuan pembentukkan ASEAN seperti yang tercantum dalam Deklarasi Bangkok adalah untuk:

  • Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan negara-negara Asia Tenggara.
  • Memelihara perdamaian dan stabilitas dengan menjunjung tinggi hukum dan hubungan antara negara-negara di Asia Tenggara.
  • Meningkatkan kerja sama yang aktif dan saling membantu dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, teknologi dan administrasi.
  • Saling memberikan bantuan dalam bidang fasilitas latihan dan penelitian pada bidang pendidikan, kejuruan, teknik dan administrasi.
  • Bekerja sama secara lebih efektif untuk mencapai daya guna lebih besar dalam bidang pertanian, industri, dan perkembangan perdagangan termasuk studi dalam hal perdagangan komoditas internasional, perbaikan pengangkutan dan fasilitas komunikasi serta meningkatkan taraf hidup rakyat.
  • Meningkatkan studi tentang masalah-masalah di Asia Tenggara.
  • Memelihara kerja sama yang erat dan bermanfaat dengan berbagai organisasi internasional dan regional lain yang mempunyai tujuan sama serta mencari kesempatan untuk menggerakkan kerja sama dengan mereka.

Daftar Negara Anggota Asean

1. Indonesia masuk pada tanggal 8 Agustus 1967
2. Malaysia masuk pada tanggal 8 Agustus 1967
3. Thailand masuk pada tanggal 8 Agustus 1967
4. Filipina masuk pada tanggal 8 Agustus 1967
5. Singapura masuk pada tanggal 8 Agustus 1967
6. Brunei Darussalam masuk pada tanggal 7 Januari 1984
7. Vietnam masuk pada tanggal 28 Juli 1995
8. Myanmar masuk pada tanggal 23 Juli 1997
9. Laos masuk pada tanggal 23 Juli 1997
10. Kamboja masuk pada tanggal 30 April 1999

Demkianlah sejarah pembentukkan ASEAN beserta daftar negara anggotanya. Semoga dengan adanya informasi di atas dapat menambah wawasan kamu ya!

Sejarah Hari Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi

Sejarah Hari Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi

Hari Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi – Sejarah peristiwa Kapal Tujuh Provinsi terjadi tanggal pada tanggal 5 Februari 1933 dini hari di pantai lepas Sumatera ketika Indonesia masih diduduki oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Peristiwa ini merupakan salah satu kejadian penting bagi sejarah Indonesia yang jarang dibicarakan di Indonesia. Terjadi pemberontakkan atau perlawanan dari awak kapal perang “De Zeven Provincien” milik pemerintah kolonial.

Aksi perlawanan di atas bahtera dalam pelayaran menuju Surabaya dengan upaya pengambil-alihan kemudi itu terjadi karena adanya penurunan upah para awak kapal secara tidak adil sebesar 17%. Terdapat latar belakang mengapa peristiwa tersebut terjadi hingga menjadi soroton dalam sejarah Indonesia.

“De Zeven Provincien” digambarkan sebagai kapal perang terbesar milik pemerintah Hindia Belanda. Fungsi daripada bahteri ini adalah sebagai tempat karantina sejumlah marinir, baik dari bangsa Eropa, Belanda, juga bumiputera atau pribumi asal Indonesia.

Latar Belakang De Zeven Provincien

Kehidupan ekonomi dunia mulai menyusut di tahun 1930an. Pemerintah kolonial Hindia Belanda yang mengalami defisit, atas usulan Gubernur jendral de Jonge mengeluarkan informasi penguran gaji marinir.

Baru saja memasuki tahun 1932, gaji para pekerja di kapal mengalami penurunan upah sebesar 10%. Gaji yang tidak seimbang antara pegawai Belanda dan pribumi tetap di kenakan pengurangan yang sama persenannya.

Masih di tahun yang sama pengurangan gaji kembali terjadi lagi sebanyak 7 persen. Perencanaan pemotongan gaji tidak hanya berhenti disitu. Ketika pemangkasan ketiga mulai dimunculkan, banyak pihak yang menolak, termasuk Komandan Angkatan Laut Hindia Belanda, J.F. Osten.

Pemerintah Hindia Belanda tiba-tiba mengeluarkan pernyataan dalam keputusan Koninlijk Besluit No.51. Yang berisi tentang pemangkasan gaji yang resmi akan di lakukan pada 1 Februari 1933.

Pada tanngal 26 januari 1933, para marinir baru mengetahui kabar pemotongan tersebut. Pemotongan sebesar 14% untuk pekerja dari Belanda dan 17% untuk pekerja pribumi. Besaran gaji yang dari awal memang tidak pernah adil antara pekerja Belanda dan pekerja pribumi, semakin membuat para awak kapal geram.

Di sebuah bioskop, para awak kapal berdiskusi mengenai kabar buruk tersebut. Pada 28 Januari 1933, perbincangan tersebut berlangsung memanas mengingat terjadinya penangkapan 425 anak kapal di Surabaya.

Kronologi Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi

Artikel bertajuk “Karena Seven Proviencien dan Ordonansi Golongan Belanda Tjemas dan Beraksi” dalam surat kabar Medan Ra’jat edisi 4 Februari 1933, diberitakan, terjadi kasus pemberontakan kapal perang “De Zeven Provincien”.

Masih dalam Medan Ra’jat melalui artikel “Pemberontakan pada Marine”, pemberontakkan tersebut ternyata di jalankan oleh para anggota bumiputera, di antaranya terdapat Paradja, Romambi, Gosal, dan Kawilarang. Belakangan, beberapa awak kapal dari bangsa Eropa juga turut serta melakukan aksi tersebut.

Menteri Urusan Jajahan Belanda, Hendrikus Colijn, memutuskan untuk tegas kepada para awak kapal yang melawan tersebut. Menteri Colin ia juga memerintahkan media untuk tidak mempublikasikan kejadian ini. Tujuan kapal perang di bawah pimpinan Kawilarang ini adalah Surabaya. Namun, di perjalanannya sebelum sampai Selat Malaka, 10 Februari 1933, sudah banyak mengalami halangan dari pemerintah kolonial.

Saat itu, Kapal Tujuh Provinsi dikepung oleh beberapa pesawat tempur serta kapal selam yang siap dengan masing-masing senjatanya. Peringatan sudah diberikan namun tidak digubris.

Akhirnya, salah satu pesawat mengeluarkan bom tepat ke arah kapal yang dikemudikan Kawilarang. Setelah kejadian tersebut, banyak awak kapal yang meregang nyawa. Namun, Kawilarang saat itu selamat beserta beberapa orang lainnya meksipun akhirnya ditangkap.

Hukuman yang diberikan kepada Kawilarang adalah penjara 18 tahun. Mereka yang tewas dimakamkan di Pulau Mati, Kepulauan Seribu. Nantinya, jenazah mereka dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Kawilarang masuk Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Ia gugur saat menjalankan tugas di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.